KNKT: Parfum dan Bawang Bisa Picu Kebakaran

Botol parfum ditemukan di kabin truk bermuatan bawang yang terbakar di dalam KM Kirana IX.

Truk bermuatan bawang yang menjadi pemicu kebakaran di KM Kirana IX (ANTARA/Eric ireng)

VIVAnews – Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, AKBP Jayadi, menyatakan bahwa penyebab kebakaran Kapal Motor Kirana IX diduga berasal dari benda mirip botol parfum yang ada di kabin truk yang terbakar di dalam kapal. Menurutnya, kobaran api paling besar ada di kabin truk tersebut.

Truk yang terbakar itu sendiri memuat bawang bombay. Kasub Komite Laut Komite Nasional Keselamatan Transportasi, Hermanu Karmoyono, mengatakan bahwa campuran senyawa kimia antara parfum dan bawang bisa memicu kebakaran.

“Parfum kan mengandung alkohol yang mudah terbakar. Bisa jadi itu bersenyawa dengan zat kimia yang ada dalam bawang,” kata Hermanu kepada VIVAnews, Rabu 28 September 2011. Namun, imbuh Hermanu, ia tidak mau menyimpulkan apapun sebelum ada hasil pemeriksaan resmi dari Laboratorium Forensik Mabes Polri Cabang Surabaya.

Saat ini, barang-barang bukti yang ada di Kapal Kirana yang terbakar, telah dibawa ke laboratorium forensik. Hermanu mengatakan, truk-truk yang menumpang dalam kapal memang kerap membawa bahan-bahan yang – disadari atau tidak – tergolong berbahaya.

“Misalnya gas, minyak cat, plastik. Bila berinteraksi dengan senyawa yang mudah terbakar pada suhu tertentu, bahan-bahan itu mudah terbakar. Bahan-bahan itu bisa memicu uap yang menyebabkan kebakaran, atau justru menjadi awal api,” papar Hermanu.

Bahan-bahan tersebut, lanjutnya, bisa menjadi lebih berbahaya apabila ada orang merokok di dekat situ. “Jangan salah, meski di dek kendaraan dilarang merokok, tapi ada saja orang yang merokok di situ,” kata Hermanu. Menurutnya, dalam hal ini, kesadaran dan kedisiplinan masyarakat juga diperlukan dalam mencegah kecelakaan semacam itu.

Hermanu mengimbau agar pengamanan di pelabuhan diperketat, termasuk dalam memeriksa muatan truk-truk yang masuk ke kapal. Ia juga meminta supir-supir truk untuk bersikap jujur, demi keamanan penumpang dan diri mereka sendiri.

“Jangan sampai kejadian, karena muatan truk dianggap berbahaya dan truknya dilarang naik kapal, supir-supir truk itu lantas menghajar pengawas pelabuhan,” ujar Hermanu. Sayangnya, imbuh dia, kejadian semacam itu masih banyak di banyak pelabuhan, terutama di pelabuhan-pelabuhan di bagian timur Indonesia.

Namun Hermanu tidak mau menyalahkan supir-supir truk itu. Menurutnya, persoalan kecelakaan kapal di pelabuhan merupakan persoalan bersama yang harus ditangani bersama pula oleh semua pihak. “Kami tidak boleh menyalahkan siapa pun. Yang pasti, budaya keselamatan harus dijunjung tinggi oleh seluruh pihak, termasuk penumpang kapal sendiri,” kata dia. (eh)

 

• VIVAnews

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: