Kemenhub: Kapal Besar Telah Diuji Kelayakan

VIVAnews – Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan, Bambang Ervan, menyatakan kapal-kapal penumpang besar seperti Kapal Motor Kirana IX yang terbakar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pagi ini, telah melewati uji kelayakan.

“Kapal-kapal besar umumnya sudah melalui uji kelayakan. Setiap tahun, kapal penumpang besar harus naik dok untuk diperiksa,” kata Bambang kepada VIVAnews.com, Rabu 28 September 2011. Ia menjelaskan, kapal-kapal yang lolos pemeriksaan itu selanjutnya akan diberi serifikat oleh Biro Sertifikasi Indonesia.

Bambang mengatakan, setiap kecelakaan kapal memiliki penyebab yang berbeda dan tidak bisa dipukul rata. “Kebakaran di Kapal Kirana misalnya, kan bukan karena kapalnya sendiri yang terbakar, tapi karena terbakarnya truk yang berada di dalam kapal,” ujarnya.

Bambang menegaskan, KM Kirana merupakan jenis kapal penumpang besar jenis roro yang sudah pasti memiliki sertifikat kelayakan. Kapal roro merupakan singkatan dari roll in-roll of, yaitu jenis kapal yang bisa memuat kendaraan yang berjalan masuk ke dalam kapal dengan pergerakannya sendiri, dan bisa keluar dari dalam kapal dengan bergerak sendiri pula.

Oleh karena itu, selain untuk mengangkut penumpang, kapal roro juga digunakan untuk mengangkut mobil penumpang, truk, atau sepeda motor. Kapal jenis ini populer digunakan di Jawa, Sumatera, Madura, dan Bali.

Kapal-kapal jenis lebih kecil yang beberapa waktu lalu tenggelam di perairan Bali dan Madura, terang Bambang, sebetulnya lebih rawan sehingga juga perlu diawasi. Bambang menegaskan, Kemenhub tidak akan lepas tangan atas berbagai kecelakaan kapal laut yang terjadi belakangan ini.

“Secara nasional, Kemenhub memang bertanggung jawab. Tapi pasti ada tanggung jawab yang juga secara berjenjang dan hierarkis, karena itu bagian dari teknis operasional,” kata Bambang.

Dalam sebulan terakhir ini, terjadi setidaknya 5 kecelakaan laut. Tanggal 27 Agustus 2011, KM Windu Karsa tenggelam di perairan Kolaka, Sulawesi Tenggara, dan menyebabkan 10 orang tewas. Tanggal 21 September, KM Sri Murah Rezeki tenggelam di perairan Nusa Lembongan, Klungkung, Bali, dan menyebabkan 14 orang tewas.

Tanggal 24 September, KM Tunggal Putri tenggelam di perairan Pulau Raas, Kepulauan Kangean, Sumenep, Madura, dan menyebabkan 13 orang tewas. Tanggal 26 September, KM Marina Nusantara tenggelam di perairan Pulau Kadap, perairan Barito, Kalimantan Selatan. Tanggal 28 September hari ini, KM Kirana IX terbakar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dan menyebabkan 8 orang tewas.

Anggota Komisi Perhubungan DPR, Saleh Husin, menyatakan Kementerian Perhubungan harus bertanggung jawab atas berbagai kecelakaan laut itu. Terlebih, rentang antara kecelakaan satu dan lainnya sangat berdekatan. Ia menduga, ada kelalaian regulator maupun petugas di lapangan

Wakil Menteri Perhubungan, Bambang Susantono, Rabu 27 September 2011 kemarin baru saja berjanji untuk mengevaluasi dan menata ulang jalur pelayaran di sejumlah wilayah di Indonesia. “Alur pelayaran akan kami tata ulang. Selama ini, kecelakaan yang terjadi di perairan diduga akibat minimnya pengawasan di sekitar lokasi,” kata dia. (adi)

 

• VIVAnews

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: