Diabaikannya Manajemen Keselamatan Pelayaran

Banjarmasinpost.co.id  : Muzakir Fachmi

Musibah kecelakaan kapal seakan tidak berhenti menghantui masyarakat.

Belum hilang awan duka yang  menyelimuti warga Kalimantan Selatan atas tenggelamnya KM Martasiah II diperairan Tanjung Dewa kabupaten Kotabaru, kita kembali dikejutkan dengan tenggelamnya KM Sri Murah Rezeki di perairan Pulau Nusa Lembong, Klungkung Timur, Bali dan terbakarnya KM Marina Nusantara di perairan Sungai Barito, sekitar Pulau Kaget, Mantuil, Banjarmasin akibat menabrak sebuah tongkang.

Berselang dua hari dari terbakarnya KM Marina Nusantara, tersiar lagi berita terbakarnya KM Kirana  IX di perairan Tanjung Perak, Surabaya.

Tragedi beruntun kecelakaan tersebut menimbulkan banyak korban jiwa yang meninggal dunia maupun luka-luka bahkan hilang dan kerugian materi yang tidak sedikit.

Kecelakaan kapal di atas seolah telah menjadi “monster pembunuh” yang sangat mengerikan sehingga mengakibatkan trauma bagi masyarakat yang ingin bepergian dengan moda transportasi laut tersebut.

Walaupun proses investigasi terjadinya kecelakaan kapal masih berlangsung, namun secara umum dapat diduga kecelakaan tersebut dominan disebabkan faktor kesalahan manusia atau human error.

Kesalahan bisa berupa jumlah muatan penumpang dan barang yang melebihi kapasitas, perilaku buruk penumpang yang tidak menaati aturan keselamatan kapal seperti merokok di dek tempat angkutan mobil dalam kapal dan lemahnya pengawasan.

Pada peristiwa terbakarnya KM Marina Nusantara, contohnya, dikabarkan berawal dari terjadinya tabrakan dengan tongkang Pulau Tiga 330-22 yang sedang mengangkut batu bara. Tidak lama setelah tabrakan KM Marina Nusantara mulai mengeluarkan asap dan terbakar.

Secara teknis benturan yang menghantam lambung kapal hanya akan mengakibatkan kerusakan pada lambung kapal berupa robeknya plat atau deformasi struktur lambung kapal tersebut. Secara langsung tidak ada percikan api karenanya.

Artinya ada faktor lain sebagai efek samping dari tabrakan yang menimbulkan percikan api dan memicu terjadinya kebakaran kapal. Mengingat  KM Marina Nusantara merupakan kapal ferry yang mengangkut penumpang dan kendaraan maka diduga ketika terjadi tabrakan atau benturan kapal, penumpang yang berada di dek kendaraan ada yang merokok, rokok terpental dan mengenai kendaraan yang ada di dek tersebut.

Ini yang menimbulkan dugaan terjadinya kebakaran.

Hipotesis kedua adalah saat terjadi tabrakan terjadi gesekan antarkendaraan di dek yang memicu munculnya percikan api sehingga menyambar mobil-mobil yang ada. Pastinya, kita masih menunggu hasil investigasi yang dilakukan kepolisian maupun oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Selain itu, terjadinya tabrakan kapal KM Marina disebabkan tidak adanya pos pengaturan lalu lintas kapal di muara alur Sungai Barito yang menjadi tanggungjawab syahbandar serta lemahnya sistem informasi pelayaran.

Padahal alur pelayaran di Sungai Barito termasuk alur yang padat dan kondisi alur yang sempit karena seringnya terjadi sedimentasi lumpur. Oleh karena itu, sangat diperlukan pengaturan lalu lintas keluar masuk kapal yang ektra ketat oleh pihak syahbandar.

Keselamatan Pelayaran
Dirjen Perhubungan Laut merumuskan sistem manajemen pelayaran yang baik yang meliputi angkutan di perairan, kepelabuhanan, keselamatan dan keamanan pelayaran, dan perlindungan lingkungan maritim sebagaimana diatur UU No 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran.

Kembali ke kasus KM. Marina Nusantara, kapal ini dinyatakan laik laut. Ini bisa dilihat dari diberikannya Surat Izin Barlayar (SIB) oleh Kantor Administrator Pelabuhan Surabaya.

Artinya semua persyaratan wajib laik laut sudah terpenuhi. Kenyataannya ditemukan penumpang yang tidak terdaftar dalam manifest kapal. Kalau ini benar maka jelas pihak administrator pelabuhan tidak melakukan pemeriksaan sebelum mengeluarkan SIB.

Sudah menjadi kelaziman kalau pemberian sertifikat keselamatan dan surat izin berlayar kebanyakan hanya berdasarkan pemeriksaan kelengkapan administrasi dan laporan pemilik kapal tanpa melakukan cek fisik kapal.

Kita juga patut mempertanyakan ketika kapal mulai mengeluarkan asap dan terbakar, apakah standar penyelamatan penumpang dan sistem pemadam kebakaran kapal berjalan baik?

Faktanya lagi dari berita berdasarkan pengakuan penumpang diketahui saat asap mulai membumbung penumpang panik dan berdesakan naik ke dek atas. Bahkan sampai ada yang langsung menceburkan diri ke air sehingga ini yang menyebabkan timbulnya korban meninggal dan hilang.

Ini menunjukkan tidak adanya informasi standar keselamatan yang diberikan petugas ketika kapal terbakar atau tenggelam. Berbeda ketika kita naik pesawat terbang sebelum take off, tidak bosan-bosannya pramugari memberikan pengarahan cara penyelamatan ketika pesawat dalam kondisi bahaya sesuai civil aviation regulation.

Kalau sistem pemadam kebakaran berfungsi maka ketika timbul asap secara otomatis sprinkler akan mendeteksi dan menyemburkan air ke lokasi munculnya asap tersebut.

Selain dugaan kurangnya sistem navigasi dan informasi pelayaran baik antarkapal dan juga petugas pengawas pelayaran. Terjadinya tabrakan juga akibat posisi tongkang yang ditarik di belakang tugboad dengan tali yang memanjang.

Ini sangat riskan dalam alur pelayaran Sungai Barito yang padat, sempit dan  berarus kuat. Semestinya tongkang berada dalam posisi digandeng tugboad sehingga pergerakan tongkang tidak liar dan mudah dikendalikan dalam arus yang kuat.

Penulis alumni Jurusan Permesinan Kapal ITS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: