Kecelakaan di Laut dan Darat, 27 Tewas

Sumenep, Kompas – Belum selesai pencarian korban akibat terbaliknya Kapal Motor Sri Murah Rejeki di perairan Jungutbatu di Bali, tragedi kecelakaan di laut kembali menimpa KM Putri Tunggal yang tenggelam di perairan Pulau Raas, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Sabtu (24/9). Peristiwa ini menewaskan sedikitnya 13 orang, 15 orang masih dalam pencarian, dan 14 orang selamat.

Sebelum kejadian itu, Jumat (23/9) tengah malam, peristiwa naas juga terjadi Desa Jemaras, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Sebuah truk yang membawa 34 penumpang, yang merupakan calon pekerja perkebunan kelapa sawit, jatuh di saluran air dan terbalik sehingga menewaskan 14 penumpang.

Hingga Sabtu malam, informasi tentang tenggelamnya KM Putri Tunggal, yang membawa rombongan untuk menghadiri resepsi pernikahan di Pulau Tonduk, masih simpang siur. Jumlah penumpang dan awak kapal belum diketahui pasti karena tidak ada catatan resmi. Begitu juga waktu kecelakaan, tetapi diperkirakan berkisar pukul 08.00 hingga 13.00.

Anggota Syahbandar Pelabuhan Kalianget, Sumenep, Taufikurahman, mengatakan, penyebab kecelakaan diduga karena terjangan ombak. Saat kejadian, tinggi ombak laut sekitar 3 meter. Kapal berukuran 12 meter x 3 meter tersebut juga diduga kelebihan muatan, yakni sekitar 40 penumpang dan awak, padahal kapasitas maksimalnya adalah 20 orang.

Ahmad Supendi, anggota Syahbandar Pelabuhan Kalianget yang lain, menambahkan, kapal itu berangkat Sabtu pagi dari Pulau Tonduk menuju Pulau Gua-gua. Kedua pulau tersebut dapat ditempuh dalam waktu 1 jam sampai 2 jam. Diduga, saat perjalanan, terjadi angin kencang dan ombak menghantam kapal hingga tenggelam.

Berdasarkan laporan cuaca mingguan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalianget yang berlaku hingga 24 September, tiupan angin di wilayah setempat berasal dari arah tenggara, dengan kecepatan 10-42 kilometer per jam. Ketinggian ombak di perairan itu sekitar 3 meter. BMKG Kalianget, Kepulauan Kalianget, sudah memperingatkan bahaya di perairan Masalembu, Kangean, dan sekitarnya karena ombak tinggi dan awan hitam yang sering muncul.

Dari penuturan korban yang selamat, perahu terbalik karena diterpa angin kencang saat perahu sudah mendekati Pulau Gua-gua. Perahu dengan mudah terbalik karena memang muatannya melebihi kapasitas,” tutur Irsan, seorang warga Pulau Gua-gua, yang kemudian ikut dalam tim pencari korban.

Selama ini KM bermesin 37 PK yang menjadi sarana transportasi antarpulau di Kepulauan Raas itu normalnya bermuatan 20 orang. Namun, KM Putri Tunggal kelebihan muatan.

”Dalam pencarian selama sehari, kami menemukan 12 mayat dan 26 orang selamat. Saat ini pencarian sudah berhenti, tinggal menunggu pihak berwajib dan keluarga korban untuk proses selanjutnya, termasuk pemakaman korban,” ujar Irsan.

Kepala Kepolisian Resor Sumenep Ajun Komisaris Besar Susanto, yang dihubungi dari Surabaya, mengatakan, proses evakuasi korban masih terus diupayakan dengan melibatkan berbagai elemen. Pencarian tidak bisa cepat karena terhambat tingginya ombak. ”Polsek Raas dan koramil sedang mengupayakan pertolongan dan upaya evakuasi para korban, sekaligus mengidentifikasi jumlah korban yang berada di perahu saat musibah itu terjadi,” katanya.

Nama-nama korban tewas berdasarkan laporan di Syahbandar Kalianget adalah Salawiyah, Mahwiyah, Fatimah, Yamsuri, Amah, Nursani, Kartini, Mawar, Suri, dan Maskiyah. Sementara tiga korban tewas yang lain belum diketahui namanya, yaitu anak berumur sekitar 10 tahun, 7 tahun, dan 3 tahun.

Calon pekerja perkebunan

Mengenai kecelakaan truk di Desa Jemaras, Kepala Polres Kotawaringin Timur Ajun Komisaris Besar Abdul Hasyim, saat dihubungi di Sampit, mengatakan bahwa kecelakaan terjadi Jumat sekitar pukul 23.00. Saat itu para penumpang hendak menjalani perekrutan sebagai pekerja di PT Tunas Agro Subur Kencana (TASK).

Ke-14 korban tewas adalah Selo, Barin, Suhedi, Isyono, Miswan, Salamian, Kadi, Gufron, Kayun, Syukur, Suparman, Muslih, Untung Ridawi, dan Syamsudin. Korban berasal dari Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, yang mencari pekerjaan.

Awalnya, semua calon pekerja perkebunan diangkut dengan bus. Di tengah jalan sebagian dari mereka dipindahkan ke truk. Di Desa Jemaras, truk mencoba menyalip bus. Namun, tanah yang lembek di bahu jalan membuat truk oleng lalu jatuh ke saluran air dengan posisi terbalik.

Korban terjebak dalam bak truk yang jatuh di saluran air selebar 4 meter dengan kedalaman 8 meter sehingga 14 orang dari 34 penumpang truk tewas. Proses evakuasi korban baru selesai Sabtu, pukul 05.00. Lokasi kecelakaan berjarak sekitar 40 kilometer arah utara dari Sampit, ibu kota Kabupaten Kotawaringin Timur.

Para korban tewas kemudian dibawa ke RSUD Dr Murjani, Sampit. Semua jenazah akan diberangkatkan Minggu (25/9) dari Sampit dengan pesawat terbang menuju Semarang, Jawa Tengah, kemudian dilanjutkan lewat jalur darat menuju Wonosobo.

”Kami akan mengakomodasi keluarga yang ingin korban dikebumikan di daerah asal,” ujar pegawai bagian Legal PT TASK, Arief Nasution. (ANO/ETA/DIA/BAY)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: