5 Jurus Ampuh Mendeteksi Pelumas Palsu

Bisnis pelumas sangat mirip bisnis racik-meracik cocktail ala bartender dengan penggunaan bahan yang sebagian besar sudah di sediakan oleh supplier minuman. Selain citarasa, harga minuman sangat menentukan penerimaan pasar/pelanggan pada produk yang di tawarkan. Sedangkan hiasan pada penyajian minuman dan atraksi lempar botol dari bartender adalah seni menjual dalam menarik minat calon pelanggan.

Pelumas dibuat dari base oil dan additive package, penggunaan base oil jenis sintesa menambah gelar pelumas menjadi pelumas sintetis atau synthetic lube oil. Virgin base oil adalah bahan dasar pelumas (base oil) yang yang belum pernah di pakai sebelumnya, dengan kata lain bukan merupakan hasil proses daur ulang pelumas bekas pakai. Penggunaan base oil dari sumber nabati dan hewani semakin memungkinkan dengan kian tingginya harga minyak bumi.

Harga pelumas kian mahal dari hari ke hari sejalan tren kenaikan bahan baku dan naiknya biaya proses produksi. Untuk itu para juru beli di perusahaan (procurement) ditantang mencari produk berkualitas dengan harga sesuai budget. Petualangan procurement department mungkin saja berakhir pada suatu merk abal-abal dengan kualitas sebatas kata brosur buatan produsen pelumas itu sendiri. Tanpa equipment builder approval — lulus uji coba dari produsen mesin/peralatan industri, tanpa dukungan teknis, apalagi produk tersebut memiliki nama kebarat-baratan/asing tapi hanya beredar di pasar Indonesia. Atau merk ternama dengan harga lebih murah dari agen penjualan resmi.

Mohon maaf tidak ada istilah KW1 atau KW2 pada bisnis pelumas, yang ada hanya pelumas berkualitas standar produsen atau pelumas palsu. Lagi-lagi mesin dan peralatan produksi yang jadi objek penderita demi menengahi argumentasi harga vs kualitas pelumas.

Asli atau Aspal-kah Pelumas Anda? Mendeteksi keaslian pelumas tidaklah sulit tapi perlu beberapa pengetahuan dasar pola bisnis pelumas:

1. Periksa dokumen pelumas.
Pelumas memiliki sertifikat kelahiran dengan nama batch number yang memuat informasi kapan dan dimana pelumas itu buat. Penamaan pelumas oleh produsen menggunakan product code berupa nomor khusus yang merupakan sandi rahasia formulasi pelumas. Khusus untuk Indonesia, terdapat NPT— Nomor Pelumas Terdaftar untuk masing-masing jenis pelumas.

2. Periksa kemasan.
Untuk drum perhatikan cap seal besar dan kecil, bentuk, cetakan logo, warna cat, huruf, dan keutuhan bentuk drum. Beberapa produsen pelumas menggunakan tinta dan cat khusus yang akan luntur saat terkena pelumas, hal ini merupakan antipasi produsen terhadap penyalahgunaan dan penggunaan kembali kemasan tersebut oleh pihak lain.

3. Jalur distribusi.
Certificate of origin (Asli atau copy dgn approval) dapat diminta kepada principal atau produsen pelumas. Surat keagenan resmi serta dukungan purna jual dari dealer dan principal/produsen merupakan standar kelengkapan supplier pelumas berkualitas.

4. Uji Pelumas — test dasar tanpa alat bantu.
Pengambilan contoh pelumas secara acak dapat dilakukan, kemudian secara visual dibandingkan contoh pelumas jenis yang sama dari pengiriman terdahulu.

5. Onsite Analysis.
Peace of Mind, bila jabatan dan masa kerja Anda terlalu mahal untuk dipertaruhkan. Selain anggaran belanja pelumas yang besar serta terlalu mahalnya resiko downtime produksi. Portable FT-IR menjadi pilihan terdepan dibanding metode lain, dimana tiap pelumas dan fluida memiliki finger-print unik. Para pemalsu pelumas semakin pintar dengan menggunakan pelumas dengan karakteristik yang persis sama tapi dari merk yang lebih murah. Dijamin hasil test viscosities, TBN/TAN akan sama … luar biasa.

QA/QC Pada Bulk Oil Supply
Bulk oil supply menjadi pilihan baru dimana harga lebih bersaing, bebas limbah kemasan, dan rapi dalam handling-nya. Sekali lagi kualitas pelumas menjadi kebutuhan mendasar. Onsite test plus particle test semakin penting mengingat resiko kontaminasi dan out of spec tetap mengancam.

Pelumas merk ternama dengan approval equipment builder memberikan jaminan kualitas produk pelumas. Tapi tidak menjamin suksesnya proses pelumasan, masih banyak faktor-faktor lain seperti: contamination management, beban dan suhu kerja, skill dari engineer, dsb.

Sumber: ebahagia – Nov2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: