Kondisi Bocah Penderita HIV Drop

Sejumlah waria yang tergabung dalam Gerakan Waria Indonesia (GWI) menggelar aksi damai dengan membagikan bungan mawar di perempatan Jalan Raya Darmo dan Jalan Diponegoro, Surabaya, Rabu (1/12/2010). Mereka mengingatkan pengguna jalan tentang bahaya HIV/AIDS dan tidak sembarangan berhubungan seksual.

JAKARTA, KOMPAS.com – Tawa riang RZ, bocah berusia 4 tahun yang menderita HIV/AIDS kini tak lagi terdengar di dalam sebuah rumah petak di RT 03/07, Kelurahan Mampang, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok.

Pada 15 Juli lalu, kondisi RZ tiba-tiba drop dan terpaksa dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD) RS Fatmawati. Direktur Medik dan Keperawatan RS Fatmawati, dr. Lia G Partakusuma, mengatakan saat dibawa lari ke UGD, kondisi RZ cukup parah karena menderita demam hingga menggigil, diare, dan flu.

Namun, setelah dirawat empat hari, kondisi RZ kini mulai membaik dan dirawat di ruang Teratai Selatan. “Sekarang sudah agak mendingan, karena sudah tidak diare lagi,” ujar dr. Lia, Senin (18/7/2011), di RS Fatmawati.

Dia melanjutkan bahwa RZ merupakan pasien lama di RS Fatmawati. “Dua bulan lalu dia juga cek di sini. Setiap nge-drop dirujuk ke sini,” ucap dr Lia.

Karena terserang virus HIV yang membuat kondisi tubuhnya menurun, RZ pun dalam terapinya selalu diberikan obat serum anti virus. “Biasanya kalau sudah lebih baik, dia pulang lagi ke Depok,” ungkap dr. Lia.

Zubaidah, ibunda RZ yang juga positif menderita AIDS, menuturkan bahwa dirinya sempat panik manakala anaknya terserang demam parah hingga 39 derajat celcius pada tanggal 15 Juli 2011.

Ketika itu, RZ menggigil dan menahan nyeri di limpanya. Belum lagi, RZ terpaksa bolak balik kamar kecil karena diarenya justru semakin memburuk.

“Saya mengira hanya sesaat ternyata semakin parah dan saya putuskan langsung lari ke rumah sakit. Saya nggak tahu harus hubungi siapa jadi sendirian ke sini,” tutur Zubaidah yang kini menganggur.

Zubaidah akhirnya nekat pergi menggunakan angkutan umum sambil membawa RZ yang masih menahan sakit. “Sempat tidak sadarkan diri, tapi sekarang kondisinya sudah jauh membaik,” ungkap Zubaidah.

Jarum infus pun menjadi kekuatan tambahan bagi RZ yang berat badannua kian menurun selama dirawat di rumah sakit. Selain jarum infus, RZ juga wajib memakan lebih dari lima jenis obat.

Zubaidah berharap seluruh biaya perawatan anaknya ini benar-benar ditanggung Dinas Kesehatan Kota Depok, seperti janji yang sempat dilontarkan sebelumnya. “Saya hanya mohon janji mereka ditepati untuk membantu kami,” kata Zubaidah.

Adapun, RZ (4) tertular virus HIV sejak dia berada dalam kandungan ibunya, Zubaidah. Virus HIV itu ditularkan oleh ayahnya, Sugianto yang merupakan seorang pecandu narkoba suntik dan telah meninggal pada tahun 2009.

Kondisi RZ semakin menurun akibat pembengkakan limfa yang dialaminya. Akibat kondisinya yang lemah ini, RZ juga sering tidak bernafsu makan sehingga beratnya hanya 10 kilogram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: